Laten Tuberkulosis

Laten tuberkulosis dan risiko mengidapi aktif tuberkulosis(TB)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menganggarkan sepertiga populasi dunia (2 billion) menghidapi laten tuberculosis(TB). Laten TB adalah keadaan dimana kelangsungan hidup bakteri tersebut berlangsungan, kontrol immunisasi bakteri tersebut tiada eviden berkenaan aktif TB. Studi telah menunjukkan bahawa antara 5 hingga 15% dari pesakit yang menghidapi laten TB akan “mengaktifkan kembali” semasa hayat hidup dan berkembang menjadi aktif. “Pengaktifan” bakteri Mycobacterium tuberculosis (TB) telah menyumbang mayoritas “kasus baru” aktif TB yang dikesan setiap tahun.

Reaktivasi Tuberkulosis 
Proses reaktivasi adalah tergantung pada bakteri dan factor hos yang saling mempengaruhi. Interaksi ini adalah berkemungkinan menjadi kontinum dan keadaan “laten” ini akan berterusan jika respon immun pada hos kekal menonjol dan “penyakit” terjadi apabila replikasi bakteri melebihi ambang batas tertentu yang mengakibatkannya.

  • Faktor Bakteri:

Kesan bakteri awal dari index pasien adalah faktor dalam menentukan kemungkinan berkembangnya penyakit aktif. Mungkin ada strain TB yang berlainan yang menyebabkan penyakit aktif. Postulat ini tetap harus dijelaskan oleh penelitian ilmiah.

  • Faktor Hos:

Pesakit yang lebih tua adalah lebih berisiko pada reaktivasi TB dan ini mungkin terkait dengan pemudaran kekebalan kesihatan yang bersangkut-paut dengan proses penuaan. Di Singapore, perangkaan TB untuk masyarakat umum pada 2013 adalah 36.9 per 100,000 tetapi lebih tinggi lagi pada 64.1 per 100,000 bagi mereka yang berumur 60-69 tahun; dan lebih tinggi lagi 148.3 per 100,000 pada mereka yang berumur >80 tahun. HIV pasien yang juga menghidapi laten TB dan tidak mendapatkan rawatan anti-retroviral mempunyai risiko 10% menghidapi TB setiap tahun. Ini sangat berlainan kerana masyarakat umum mempunyai sekitar 10% risiko menghidapi laten TB. Kondisi medikal lain seperti diabetes, alkoholism, penyakit ginjal dan kanker adalah factor reaktivasi TB. Ubat yang menekan sistem kekebalan tubuh juga meningkatkan kelajuan reaktivasi. Ini termasuk kortikosteroid, antibodi monoclonal terhadap nekrosis tumor faktor alpha (TNF-α), agen kemoterapi dan perubatan yang diambil oleh pasien yang telah menjalankan tranplan organ.

Dengan reaktivasi, penyakit tersebut menjadi aktif dan pasien akan menghidapi tuberkulosis. Yang paling umum adalah paru-paru berserta simtomnya seperti batuk yang berdahak , haemoptysis (dahak yang berdarah) dan sesak nafas. Lainnya seperti kelenjar getah bening(benjolan persisten di leher), tulang, sendi dan juga saluran gastrointestinal (diare dan sakit perut). Pasien yang tidak diberi rawatan awal adalah penyebab atau sumber berkelanjutan. Sekitar 1/3 kontak di rumah terinfeksi dengan bakteri TB dan kebanyakan akan berkembang kepada laten TB.

Diagnosis TB Laten

Skrining untuk TB biasanya dilakukan pada index pasien TB paru-paru. Biasanya, index pasien adalah kaum keluarga serumah atau kawan sekerja yang berkongsi ruang kerja yang sama. Para pelajar universiti tahun pertama juga diharuskan untuk skrining TB ketika mahu memasuki universiti. Tambahan lagi, skrining TB adalah antara polisi perusahaan untuk petugas kesehatan dan staf asing yang bekerja di negeri endemis TB.

Skrining yang sering dilakukan adalah periksa tes tuberkulin di kulit(TST), interferon-gamma release assays (IGRA) seperti tes Quantiferon TB dan T-spot TB. Tes-tes tersebut mengukur kadar infeksi TB dengan respon imunisasi terhadap protein TB. “Tes reaktif” menindikasi bahawa seseorang itu telah terkena TB. Tes-tes ini mungkin tidak tepat dan ada hasilan yang menunjukkan positif palsu dan negatif palsu. Tes ini juga tidak boleh digunakan untuk menentukan bahawa seseorang individu itu telah menghidapi TB dan akan memprogres menjadi penyakit aktif. Lebih-lebih lagi, tes sedemikian tidak boleh membezakan antara laten TB dan aktif TB.

Pengobatan untuk TB Laten 

Tujuan pengobatan TB laten adalah untuk mencegah perkembangan ke aktif TB. Ini termasuk mengambil satu atau dua ubat TB yang diambil selama 4-9 bulan. Regimen pengobatan dan durasi ini diguna berdasarkan pada studi penelitian.

Sebaliknya, apabila seseorang pasien menghidapi aktif TB, pengobatan memerlukan 4 ubat untuk bulan pertama dan kedua (fasa induksi) dan setelah itu mengambil 2 ubat untuk 4-7bulan (fasa pemeliharaan) untuk kontrol dan membasmi penyakit.

Pasien yang menghidapi laten TB tidak “berjangkit” dan juga tidak akan menularkan infeksi.

Para individu yang sihat tidak wajib untuk mengambil pengobatan laten TB kerana risiko mengidapi aktif TB adalah 10%. Pengobatan harus diberikan kepada pasien yang berisiko tinggi seperti pasien yang mengambil agen immunosuppressive, infeksi HIV etc.

Dalam masa kini, tiada tes untuk menentukan bila pengobatan yang diambil untuk laten TB telah berhasil menghapuskan risiko aktif TB.

Kami berharap artikel ini dapat membantu mengklarifikasikan beberapa kekhawatiran umum dan kesalahpahaman mengenai laten TB. Jika mempunyai sebarang pertanyaan, sila menghubungi doktor keluarga anda atau membuat appoinmen di klinik spesialis kami.

 

Untuk Membuat Temu Janji